AllahSubhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Qur'an Surah At-Taghabun Ayat 2 Surat Al Maidah Ayat 78 Lengkap dengan Terjemah dan Tafsir 17 Juli 2022, 04:53 WIB 13:11 WIB. Surat Al Maidah Ayat 77 Lengkap dengan Terjemah dan Tafsir 16 Juli 2022, 09:15 WIB. Surat Al Maidah Ayat 76 Lengkap dengan Terjemah dan Tafsir 16 Juli 2022, 09:10 WIB Setelahpembahasan tersebut selesai, kemudian dianalisis dengan ‘content analisis’ (analisis isi). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa di dalam al-Quran surat at-Taghabun ayat 14 terdapat nilai-nilai pendidikan akhlak yaitu sifat memaafkan, sifat menahan marah dan sifat mengampuni, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda Thisis the end of the Tafsir of Surat At-Taghabun, all the praise and appreciation is due to Allah. Previous Ayah. Read, study, and learn The Noble Quran. a Sadaqah Jariyah. We hope to make it easy for everyone to read, study, and learn The Noble Quran. The Noble Quran has many names including Al-Quran Al-Kareem, Al-Ketab, Al TafsirAt Taghaabun Ayat 1-10 Surah At Taghaabun (Hari Ditampakkan Kesalahan-Kesalahan) Surah ke-64. 18 ayat. Madaniyyah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Themeof Surah At-Taghabun: The main theme of this Surah is about inviting the people to faith and obedience to Allah and teaching all the good morals of life. The first four verses address everyone. The verses 5-10 address the nonbelievers and the verses 11-18 to the believers. In the first four verses, there is an explanation of the four BookDescription. Surah At Taghabun (64) سورة التغابن Quran Arabic Calliphy Full سورة التغابن بالخط الثلث القرآن الكريم. Surah At Taghabun Interpretation of Surat Al Taghabun Taghabun day The Noble Quran Surah Al Ankabut Surat Al Taghabun in thuluth script The best surah in the Holy Quran The last . Which was revealed in Al-Madinah or Makkahبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Allah and mentioning His Creation and KnowledgeThis is the last Surah among Al-Musabbihat. We mentioned before that all creatures praise the glory of Allah, their Creator and Owner. Allah the Exalted said,لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُHis is the dominion, and to Him belongs the praise, meaning, He is the One Who has control over all creation, the One praised for all He created and decreed. Allah's statement,وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌand He is Able to do all things. means that whatever He wills occurs without resistance, and whatever He does not will, never occurs. Allah said,هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُمْ مُّؤْمِنٌHe it is Who created you, then some of you are disbelievers and some of you are believers. meaning, Allah created you with these characteristics and He willed that for you. Therefore, there will be believers and disbelievers. Surely, Allah is the One Who sees those who deserve guidance and those who deserve misguidance. He is the Witness over His servant's deeds and He will completely recompense them. This is why Allah the Exalted said,وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌAnd Allah is All-Seer of what you do. Allah said,خَلَقَ السَّمَـوَتِ وَالأَرْضَ بِالْحقِّHe has created the heavens and the earth with truth, with equity and wisdom,وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْand He shaped you and made good your shapes. He made you in the best shapes and forms. Allah the Exalted said,يأَيُّهَا الإِنسَـنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ - الَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ - فِى أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ O man! What has made you careless about your Lord, the most Generous Who created you, fashioned you perfectly and gave you due proportion; in whatever form He willed, He put you together. 826-8 And His saying,اللَّهُ الَّذِى جَعَـلَ لَكُـمُ الاٌّرْضَ قَـرَاراً وَالسَّمَآءَ بِنَـآءً وَصَوَّرَكُـمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُـمْ وَرَزَقَكُـمْ مِّنَ الطَّيِّبَـتِAllah, it is He Who has made for you the earth as a dwelling place and the sky as a canopy, and has given you shape and made your shapes good looking and has provided you with good things. 4064 and His saying;وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُAnd to Him is the return. means the return and final destination. Allah then informs of His knowledge of all that there is in the heavens, in the earth and in the souls, He saidيَعْلَمُ مَا فِى السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمُ بِذَاتِ الصُّدُورِ He knows what is in the heavens and on earth, and He knows what you conceal and what you reveal. And Allah is the All-Knower of what is in the breasts. ASBĀB-UN-NUZŪL SŪRAT-UT-TAGHĀBUNبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِDengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha PenyayangImām Tirmidzī telah mengetengahkan sebuah hadits demikian pula Imām Ḥākim yang menilai hadits ini sebagai hadits shaḥīḥ. Keduanya mengetengahkan hadits ini bersumber dari Ibnu Abbās yang telah menceritakan, bahwa ayat ini yaitu firman-Nya“Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.” QS. Taghābun [64] 14.diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari kalangan penduduk Makkah; mereka telah masuk Islam akan tetapi istri-istri dan anak-anak mereka tidak mau diajak berhijrah ke Madīnah bersama mereka. Ketika kaum itu datang kepada Rasūlullāh di Madīnah, mereka menduga bahwa orang-orang telah mengerti dan memahami perihalnya; mereka pasti akan menghukumnya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya“dan jika kalian memaafkan dan tidak marah……” QS. Taghābun [64] 14.Imām Ibnu Jarīr telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Athā’ ibnu Yasār yang telah menceritakan, bahwa surat at-Taghābun semuanya diturunkan di Makkah, kecuali ayat-ayat berikut ini, yaitu firman-Nya“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian…...” QS. Taghābun [64] 14.Ayat di atas diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh Auf bin Mālik al-Asyjaī. Ia mempunya istri dan anak, dan bilamana Auf hendak pergi berperang, mereka menangis seraya menahannya supaya jangan berangkat ke medan perang. Keluarga Athā’ mengatakan “Kepada siapakah kamu akan menitipkan kami.” Tangisan dan halangan mereka membuat hati Athā’ lunak dan akhirnya ia tidak jadi berangkat. Lalu turunlah ayat ini. Sedangkan ayat-ayat yang selanjutnya hingga akhir surat semuanya diturunkan di Ibnu Abī Ḥātim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Saīd ibnu Jubair yang telah menceritakan, bahwa setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya“bertaqwālah kalian kepada Allah sebenar-benar taqwā kepada-Nya.” QS. Āli Imrān [3] 102.maka hal ini dirasakan amat berat pengamalannya oleh kaum Muslimīn. Akhirnya mereka tiada henti-hentinya melakukan shalat, sehingga kaki mereka bengkak-bengkak dan dahi mereka luka karena banyaknya shalat yang mereka kerjakan. Lalu Allah menurunkan ayat ini sebagai keringanan buat kaum Muslimīn, yaitu firman-Nya“Maka bertaqwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian…..” QS. Taghābun [64] 16.Diposting pada 21 November Dari 355 191Kali. 1. يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ لَهُ ٱلْمُلْكُ وَلَهُ ٱلْحَمْدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ yusabbiḥu lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa alā kulli syai`ing qadīr 1. Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tafsir يُسَبِّحُ artinya senantiasa bertasbih, dalam bahasa arab يُسَبِّحُ disebut dengan fi’il mudhari, yang dalam bahasa inggris artinya present tense, yang intinya kata ini menunjukkan sedang bertasbih yang berada di langit dan di bumi, dan ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala maha suci kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun Allah subhanahu wa ta’ala tetap maha suci, maka Allah subhanahu wa ta’ala tidak boleh disekutukan, tidak boleh ada aib pada diri Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga tidak disandangkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala kekurangan apa pun, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” QS. An-Nahl 1 Pada ayat pertama dari surah at-taghobun ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwasanya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ini merupakan bantahan kepada kesyirikan yang terus berjalan di alam semesta ini yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan berbagai macam bentuk, sehingga dalam ayat ini menjelaskan bahwa seluruh makhluk-Nya yang dilangit dan di bumi mensucikannya dengan bentuk fi’il mudhari’ untuk menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa disucikan. Setelah itu Allah menjelaskan sebab-sebab kenapa Dia harus disucikan, diantaranya Pertama Segala sesuatu adalah milik Allah. Karenanya Allah berfirman {لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ} “milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya pula segala puji” Ini semua benar bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini milik Allah subhanahu wa ta’ala, dan kepemilikan yang sesungguhnya hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala[1], adapun kepemilikan manusia sifatnya hanya sementara, dan kepemilikannya akan berpindah ke tangan orang lain entah itu dengan meninggalnya dia atau dengan cara direbut oleh orang lain, adapun kepemilikan Allah subhanahu wa ta’ala adalah kepemilikan yang sesungguhnya. Kemudian firman-Nya “pujian yang sesungguhnya hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala”, adapun makhluk mereka dipuji disebabkan kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada makhluk tersebut, dan kebanyakan makhluk dipuji dari satu sisi namun dia dicela dari sisi yang lain karena tidak ada makhluk yang sempurna, maka tidak ada satu makhluk pun yang selalu dipuji, terkadang dia dicela dari satu sisi dan dipuji dari satu sisi karena ada kekurangan yang melekat pada dirinya. Kalaupun mereka banyak dipuji karena banyaknya kesempurnaan yang ada pada dirinya maka hakikatnya kesempurnaan tersebut Allah subhanahu wa ta’ala yang memberikannya jadi pujian tersebut kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang maha meliputi segala sesuatu, dan ini semua menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala harus ditasbih/disucikan dari segala bentuk kesyirikan, hal ini dikarenakan karena Allah subhanahu wa ta’ala maha kuasa atas segala sesuatu, maka Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah bukan yang lainnya[2]. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang salah satu bentuk kekuasaan-Nya di dalam ayat berikutnya, Ketiga Allah yang menciptakan seluruh manusia. ____________ Footnote [1] Lihat At-Tahrir wat-Tanwir 28/261 [2] Lihat At-Tahrir wat-Tanwir 28/261 Warning against the Fitnah of Spouses and OffspringAllah states that some wives and children are enemies to their husbands and fathers, in that they might be busied with them rather than with performing the good deeds. Allah said in another Ayah,يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلاَ أَوْلَـدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَـسِرُونَ O you who believe! Let not your properties or you children divert you from the remembrance of Allah. And whosoever does that then they are the losers. 639 Allah the Exalted said here,فَاحْذَرُوهُمْtherefore, beware of them! for your religion, according to Ibn Zayd. Mujahid explained the Ayah ,إِنَّ مِنْ أَزْوَجِكُمْ وَأَوْلـدِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْVerily, among your wives and your children there are enemies for you; by saying, "They might direct the man to sever his relation or disobey his Lord. The man, who loves his wives and children, might obey them in this case." Ibn Abi Hatim recorded that Ibn `Abbas said to a man who asked him about this Ayah,يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ إِنَّ مِنْ أَزْوَجِكُمْ وَأَوْلـدِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْO you who believe! Verily, among your wives and your children there are enemies for you; therefore beware of them! "There were men who embraced Islam in Makkah and wanted to migrate to Allah's Messenger . However, their wives and children refused to allow them. Later when they joined Allah's Messenger , they found that those who were with him the Companions have gained knowledge in the religion, so they were about to punish their wives and children. Allah the Exalted sent down this Ayah,وَإِن تَعْفُواْ وَتَصْفَحُواْ وَتَغْفِرُواْ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌBut if you pardon them and overlook, and forgive, then verily, Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful." At-Tirmidhi collected this Hadith and said that it is Hasan Sahih. Allah's statement,إِنَّمَآ أَمْوَلُكُمْ وَأَوْلَـدُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ Your wealth and your children are only a Fintah, whereas Allah! With Him is a great reward. Allah said that the wealth and children are a test and trial from Allah the Exalted for His creatures, so that He knows those who obey Him and those who disobey Him. Allah's statement,وَاللَّهُ عِنْدَهُwhereas Allah! With Him meaning, on the Day of Resurrection,أَجْرٌ عَظِيمٌis a great reward. As Allah said;زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَـطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَـمِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَـعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأَبِ Beautified for men is the love of things they covet; women children, Qanatir Al-Muqantarah of gold and silver, branded beautiful horses, cattle and well-tilled land. This is the pleasure of the present world's life; but Allah has the excellent return with him. 314, and the Ayah after it. Imam Ahmad recorded that Buraydah said, "The Messenger of Allah was giving a speech and Al-Hasan and Husayn came in wearing red shirts, walking and tripping. The Messenger descended from the Minbar, held them and placed them in front of them and said,صَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ، نَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتْى قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا»Allah and His Messenger said the truth,`Verily, your wealth and your children are a Fitnah.' I saw these two boys walking and tripping and could not be patient until I stopped my speech and picked them up." This was recorded by the Sunan compilers, and At-Tirmidhi said, "Hasan Gharib."The Order for Taqwa, as much as One is CapableAllah said,فَاتَّقُواْ اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْSo have Taqwa of Allah as much as you can; meaning, as much as you are able and can bear or endure. The Two Sahihs recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوه»When I command you to do something, do as much as you can of it, and whatever I forbid for you, then avoid it. Allah's statement,وَاسْمَعُواْ وَأَطِيعُواْlisten and obey, means, obey what Allah and His Messenger command you to do and do not stray from it to the right or left. Do not utter a statement or make a decision before Allah and His Messenger issue a statement or decision. Do not ignore what you were ordered to do, nor commit what you were forbidden from CharityAllah the Exalted said,وَأَنْفِقُواْ خَيْراً لاًّنفُسِكُمْand spend in charity; that is better for yourselves. meaning, give from what Allah has granted you to your relatives, the poor, the needy and the weak. Be kind to Allah's creatures, just as Allah was and still is kind with you. This will be better for you in this life and the Hereafter. Otherwise, if you do not do it, it will be worse for you in this life and the Hereafter. Allah said;وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَAnd whosoever is saved from his own greed, then they are the successful ones. This was explained with a similar Ayah in Surat Al-Hashr, where we also mentioned the relevant Hadiths. Therefore, we do not need to repeat them here, all praise and gratitude is due to Allah. Allah the Exalted said,إِن تُقْرِضُواْ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَـعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْIf you lend to Allah a handsome loan, He will double it for you, and will forgive you. meaning, whatever you spend, then Allah will replace it, and on Him will be the reward of whatever you give away in charity. Allah considered giving charity as if it is a loan to Him, just as Allah said in a Qudsi Hadith,مَنْ يُقْرِضُ غَيْرَ ظَلُومٍ وَلَا عَدِيم»"Who will give a loan to He Who is neither unjust nor poor" This is why Allah the Exalted said in Surat Al-Baqarah,فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةًSo that He may multiply it to him many times 2245 Allah said;وَيَغْفِرْ لَكُمْand will forgive you. meaning, He will erase your mistakes,وَاللَّهُ شَكُورٌAnd Allah is Shakur meaning, He gives abundantly in return for what was little,حَلِيمٌHalim means, He forgives, pardons, covers and absolves the sins, mistakes, errors and shortcomings,عَـلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَـدَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ All-Knower of the unseen and seen, the Almighty, the All-Wise. Its explanation has already preceded several times. This is the end of the Tafsir of Surat At-Taghabun, all the praise and appreciation is due to Allah. 14. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ yā ayyuhallażīna āmanū inna min azwājikum wa aulādikum aduwwal lakum faḥżarụhum, wa in ta’fụ wa taṣfaḥụ wa tagfirụ fa innallāha gafụrur raḥīm 14. Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tafsir Dalam ayat Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kita bahwa ada di antara keluarga kita di antaranya istri-istri dan anak-anak kita yang bisa menghalangi kita dari beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menghalangi kita dari menjalani ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.” Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa ada diantara istri-istri dan anak-anak kita ada yang menjadi musuh bagi kita, dan musuh adalah seseorang yang menginginkan untuk menimpakan keburukan kepada yang lainnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan disini sebagian مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ “dari sebagian istri-istri kalian dan anak-anak kalian” jadi tidak semua istri-istri dan anak-anak itu buruk, karena ada diantara mereka yang baik. Termasuk contoh istri yang baik adalah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sabdakan, dari Tsauban, ia berkata لَمَّا نَزَلَ فِي الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ مَا نَزَلَ قَالُوا فَأَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ؟ قَالَ عُمَرُ أَنَا أَعْلَمُ ذَلِكَ لَكُمْ. قَالَ فَأَوْضَعَ عَلَى بَعِيرٍ فَأَدْرَكَهُ، وَأَنَا فِي أَثَرِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ؟ قَالَ ” لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً تُعِينُهُ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ “ “Tatkala turun ayat yang berkaitan dengan masalah perak dan emas, para sahabat bertanya, “Lantas harta apa yang kita ambil?” Umar berkata “Aku akan memberitahukan kepada kalian masalah itu.” Umar lantas naik ke atas untanya dan menemui beliau shallallahu alaihi wasallam, sementara aku mengikuti di belakangnya. Umar bertanya; “wahai Rasulullah, harta apa yang boleh kita ambil?” Beliau menjawab “Hendaknya salah seorang dari kalian menjadikan hatinya sebagai hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan istri yang menolongnya dalam urusan akhiratnya.” [1] Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu bentuk kenikmatan adalah ketika memiliki istri yang senantiasa mengingatkan suaminya tentang perkara akhirat, sering memotivasi dia untuk senantiasa berinfak, mengingatkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, membangunkan dia untuk shalat subuh, dan membangunkan dia untuk shalat malam. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala juga mengingatkan bahwa diantara istri-istri terdapat musuh bagi suaminya yang selalu membuat masalah, yang menghalangi suaminya dari berbuat kebaikan, ketika ingin berbuat baik kepada orang tua dihalang-halangi, ingin berbuat baik terhadap kerabat dihalang-halangi, dia yang mengajarkan suaminya menjadi pelit, mengajarkan suaminya untuk terus memikirkan dunia, bahkan mengajarkan suaminya untuk berhutang demi memiliki perhiasan dunia, dan yang lainnya. Istri seperti ini dialah musuh bagi suaminya yang menginginkan keburukan kepada suaminya. Demikian juga anak-anak sebagaimana yang diriwayatkan dari Ya’la al-Amiri, جَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ يَسْعَيَانِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَمَّهُمَا إِلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ» “datang Al-Hasan dan Al-Husain berjalan menuju Nabi shallallahu alaihi wa sallam maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam merangkul meraka berdua dan bersabda sesungguhnya anak membuat orang menjadi pelit dan penakut.” [2] Dalam hadits ini disebutkan bahwa anak menjadi sebab seseorang menjadi pelit dan penakut, ketika dia mau berinfak lalu dia memikirkan anak-anaknya akhirnya membuatnya tidak jadi berinfak, dan ketika dia ingin berjihad lalu dia memikirkan anak-anaknya lalu berpikir jika dia meninggal maka siapa yang akan mengurus anak-anaknya? Akhirnya membuatnya tidak jadi berjihad. Bahkan anak-anak bisa membuat seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan ketika anaknya banyak keinginan, ingin ini dan ingin itu lalu dia menuruti semua keinginan anaknya akhirnya dia terjerumus ke dalam kemaksiatan, contohnya ketika anaknya ingin menonton di bioskop, demi menyenangkan anaknya dia mengikutinya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan untuk berhati-hati فَاحْذَرُوهُمْ “maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka”, karena sebagian orang mengatakan bahwa ini seperti musuh dalam selimut yaitu musuh yang tidak disadari, rasa cinta terhadap istri dan anak-anak dengan rasa cinta yang berlebihan sehingga membuatnya tidak bisa menimbang dengan timbangan syar’i, akhirnya dia menuruti semua keinginan istri-istri dan anak-anaknya dan dia terjerumus ke dalam kemaksiatan tanpa dia sadari. Seperti yang dijelaskan oleh penulis bahwa sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} قَالَ هَؤُلَاءِ رِجَالٌ أَسْلَمُوا مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَرَادُوا أَنْ يَأْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَبَى أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ أَنْ يَدَعُوهُمْ أَنْ يَأْتُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَوْا النَّاسَ قَدْ فَقُهُوا فِي الدِّينِ هَمُّوا أَنْ يُعَاقِبُوهُمْ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} [التغابن 14] الآيَةَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “ Ibnu Abbas ditanya oleh seorang laki-laki mengenai ayat ini {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} QS. Attaghabun 14, beliau menjawab mereka adalah para lelaki penduduk Makkah yang telah masuk Islam, dan ingin menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam , namun istri-istri dan anak-anak mereka enggan jika mereka ditinggalkan untuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Ketika mereka mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa salam , mereka melihat orang-orang yang telah datang lebih dahulu sungguh telah memahami agama, sehingga mereka berniat ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, maka turunlah ayat ini {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} QS. Attaghabun 14.”[3] Dan ini bukan hanya untuk para istri saja, namun para suami juga bisa menjadi musuh bagi para istri jika mereka menghalangi istri-istri mereka dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. [4] Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “dan jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan arahan ilahi yang indah, karena dalam ayat ini menjelaskan bahwa meskipun di antara istri-istri dan anak-anak ada yang merupakan musuh dan kita diperintahkan untuk waspada dan hati-hati, namun bukan berarti lantas kita menjadi pelit dan marah terhadap istri dan anak-anak, karena bagaimanapun mereka adalah istri-istri dan anak-anak kita. Allah subhanahu wa ta’ala memberi arahan dan bimbingan dengan firman-Nya وَإِنْ تَعْفُوا “dan jika kalian maafkan”, وَتَصْفَحُوا “dan kalian berlapang dada” yaitu melapangkan dada tanpa perlu mencela namun cukup dinasihati, karena ketika mereka salah maka hakikatnya sang suami juga salah karena terlalu mengikuti kemauan mereka, وَتَغْفِرُوا “kalian menutupi” yaitu menutupi kesalahan mereka[5], tidak perlu bercerita kepada orang lain sebab dia tidak bisa melalukan ketaatan karena disebabkan istri-istri dan anak-anaknya, karena kesalahan mereka bukanlah untuk diceritakan kepada orang lain, maka disini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan solusi وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi kesalahan mereka”. Mengapa suami dilarang untuk memarahi istri-istri dan anak-anaknya yang telah membuatnya lalai dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala?, hal ini dikarenakan bagaimanapun juga mereka adalah istri-istri dan anak-anaknya, dan bukanlah orang lain, yang mana mereka adalah kecintaannya, yang memiliki jasa baik lainnya, memberikan kebahagiaan kepadanya. Karenanya dilarang untuk mencela dan memarahi mereka atau menghukum mereka. Uslub/metode ini disebut dalam istilah tafsir dengan الاِحْتِرَاس, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala mendatangkan suatu pernyataan untuk menepis prasangka yang keliru yang mungkin muncul terhadap pernyataan yang sebelumnya. Dalam hal ini ketika Allah berfirman إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ “Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka”, maka ketika ada seseorang yang membaca ayat ini kawatir ia salah paham, dan menyangka harus menghukum anak dan istrinya yang menyebabkannya lalai. Maka untuk menepis kemungkinan persangkaan ini maka Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan setelahnya وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi kesalahan mereka”. Ini menunjukkan untuk kita tetap harus sayang kepada istri-istri dan anak-anak kita meskipun dalam kondisi mereka jelas-jelas salah, entah karena menjerumuskan kita sehingga menjadi pelit, atau menghalangi kita dari menuntut ilmu, atau menyebabkan kita kurang berbakti kepada orang tua, dan lain-lain, namun kita tetap dilarang untuk memarahi mereka, mencela mereka, dan mengumbar aib mereka. Apalagi jika kesalahan mereka hanya berupa kesalahan yang ringan maka lebih dilarang lagi bagi kita untuk memarahi mereka, mencela mereka, dan mengumbar aib mereka. Dan jika seorang suami sudah melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan yaitu وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi kesalahan mereka” maka balasannya adalah فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Maksudnya adalah اَلْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ “balasan sesuai dengan amal”, sebagaimana kalian mengampuni istri-istri dan anak-anak kalian maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni kalian. Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan janji-janji yang lain dan Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikan janji akhirat, yaitu ketika seorang suami memaafkan istri-istri dan anak-anaknya, menasihati mereka, tidak mencela mereka, dan tidak membongkar aib mereka maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya, dan ini yang paling diharapkan oleh seorang hamba di akhirat, yaitu diampuni dosa-dosanya. Dan itu bisa ia raih dengan mengampuni istri-istri dan anak-anaknya. ____________ Footnote [1] HR. Ahmad no. 22437, dikatakan oleh Syu’aib al-Arnauth hadits ini hasan lighoirih [2] HR. Ibnu Majah no. 3666, dan hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani [3] HR. At-tirmidzi no. 3317 dan ia berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan shahih”, dan hadits ini dihasankan oleh Al-Albani. [4] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 18/142 [5] Lihat At-Tahrir- wat-Tanwir 28/285

tafsir surat at taghabun